Rabu, 12 Oktober 2011

"yang haram selamanya tak akan menjadi halal"

Penggalan kisah ini sebenarnya hanya sebagian saja dari kemuliaan akhlak Rabi’ah al-Adawiyah, seorang sufi legendaris.

Suatu ketika, Rabiah al-Adawiyah makan bersama dengan keluarganya.

Sebelum menyantap hidangan makanan yang tersedia, Rabi’ah memandang

ayahnya seraya berkata, “Ayah,° °∙·°yang haram selamanya tak akan menjadi

halal°·∙. Apalagi karena ayah merasa berkewajiban memberi nafkah kepada

kami.” Ayah dan ibunya terperanjat mendengar kata-kata Rabi’ah. Makanan

yang sudah di mulut akhirnya tak jadi dimakan. Ia pandang Rabi’ah

dengan pancaran sinar mata yang lembut, penuh kasih. Sambil tersenyum,

si ayah lalu berkata, “Rabi’ah, bagaimana pendapatmu, jika tidak ada

lagi yang bisa kita peroleh kecuali barang yang haram?” Rabi’ah

menjawab: “Biar saja kita menahan lapar di dunia, ini lebih baik

daripada kita menahannya kelak di akhirat dalam api neraka.” Ayahnya

tentu saja sangat heran mendengar jawaban Rabi’ah, karena jawaban

seperti itu hanya didengarnya di majelis-majelis yang dihadiri oleh

para sufi atau orang-orang saleh. Tidak terpikir oleh ayahnya, bahwa

Rabi’ah yang masih muda itu telah memperlihatkan kematangan pikiran dan

memiliki akhlak yang tinggi (Abdul Mu’in Qandil).

Ka'bah Vs Hati Wali

Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc. Dipl.


Diriwayatkan oleh Syaikh Syamsuddin at-Tabrizi bahwa suatu hari ketika Syaikh Abu Yazid al-Busthami sedang dalam perjalanan menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji, beliau mengunjungi seorang sufi di Bashrah. Secara langsung dan tanpa basa-basi, sufi itu menyambut kedatangan beliau dengan sebuah pertanyaan: "Apa yang anda inginkan hai Abu Yazid?".


Syaikh Abu Yazid pun segera menjelaskan: "Aku hanya mampir sejenak, karena aku ingin menunaikan ibadah haji ke Makkah".


"Cukupkah bekalmu untuk perjalanan ini?" tanya sang sufi.


"Cukup" jawab Syaikh Abu Yazid.


"Ada berapa?" sang sufi bertanya lagi.


"200 dirham" jawab Syaikh Abu Yazid.


Sang sufi itu kemudian dengan serius menyarankan kepada Syaikh Abu Yazid: "Berikan saja uang itu kepadaku, dan bertawaflah di sekeliling hatiku sebanyak tujuh kali".


Ternyata Syaikh Abu Yazid masih saja tenang, bahkan patuh dan menyerahkan 200 dirham itu kepada sang sufi tanpa ada rasa ragu sedikitpun. Selanjutnya sang sufi itu mengungkapkan: "Wahai Abu Yazid, hatiku adalah rumah Allah, dan ka'bah juga rumah Allah. Hanya saja perbedaan antara ka'bah dan hatiku adalah, bahwasanya Allah tidak pernah memasuki ka'bah semenjak didirikannya, sedangkan Ia tidak pernah keluar dari hatiku sejak dibangun oleh-Nya".


Syaikh Abu Yazid hanya menundukkan kepala, dan sang sufi itupun mengembalikan uang itu kepada beliau dan berkata: "Sudahlah, lanjutkan saja perjalanan muliamu menuju ka'bah" perintahnya.


Syaikh Abu Yazid al-Busthami adalah seorang wali super agung yang sangat tidak asing lagi di hati para penimba ilmu tasawuf, khususnya tasawuf falsafi. Beliau wafat sekitar tahun 261 H. Sedangkan Syaikh Syamsuddin at-Tabrizi (yang meriwayatkan kisah di atas) adalah juga seorang wali besar (wafat tahun 645 H.) yang telah banyak menganugerahkan inspirasi dan motivasi spiritual kepada seorang wali hebat sekaliber Syaikh Jalaluddin ar-Rumi, penggagas Tarekat Maulawiyah (wafat tahun 672 H.).


Namun siapakah sang sufi itu?. Nampaknya, kewalian yang ia miliki jauh lebih tinggi dari ketiga imam ternama di atas. Siapakah gerangan ia...?!?


Copyright @ faloodeez Sadewo

"ibadah 500 tahun tidak sebanding dengan 1 nikmat yg Alloh SWT karuniakan"

Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju kami, lalu bersabda, 'Baru saja kekasihku Malaikat Jibril keluar dariku dia me...mberitahu, 'Wahai Muhammad, Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran. Sesungguhnya Allah memiliki seorang ...hamba di antara sekian banyak hambaNya yang melakukan ibadah kepadaNya selama 500 tahun, ia hidup di puncak gunung yang berada di tengah laut. Lebarnya 30 hasta dan panjangnya 30 hasta juga. Sedangkan jarak lautan tersebut dari masing-masing arah mata angin sepanjang 4000 farsakh. Allah mengeluarkan mata air di puncak gunung itu hanya seukuran jari, airnya sangat segar mengalir sedikit demi sedikit, hingga menggenang di bawah kaki gunung.

Allah juga menumbuhkan pohon delima, yang setiap malam mengeluarkan satu buah delima matang untuk dimakan pada siang hari. Jika hari menjelang petang, hamba itu turun ke bawah mengambil air wudhu’ sambil memetik buah delima untuk dimakan. Kemudian mengerjakan shalat. Ia berdoa kepada Allah Ta’ala jika waktu ajal tiba agar ia diwafatkan dalam keadaan bersujud, dan mohon agar jangan sampai jasadnya rusak dimakan tanah atau lainnya sehingga ia dibangkitkan dalam keadaan bersujud juga.

Demikianlah kami dapati, jika kami lewat dihadapannya ketika kami menuruni dan mendaki gunung tersebut.

Selanjutnya, ketika dia dibangkitkan pada hari kiamat ia dihadapkan di depan Allah Ta’ala, lalu Allah berfirman, 'Masukkanlah hambaKu ini ke dalam Surga karena rahmatKu.' Hamba itu membantah, 'Ya Rabbi, aku masuk Surga karena perbuatanku.'

Allah Ta’ala berfirman, 'Masukkanlah hambaKu ini ke dalam Surga karena rahmatKu.' Hamba tersebut membantah lagi, 'Ya Rabbi, masukkan aku ke surga karena amalku.'

Kemudian Allah Ta’ala memerintah para malaikat, 'Cobalah kalian timbang, lebih berat mana antara kenikmatan yang Aku berikan kepadanya dengan amal perbuatannya.'

Maka ia dapati bahwa kenikmatan penglihatan yang dimilikinya lebih berat dibanding dengan ibadahnya selama 500 tahun, belum lagi kenikmatan anggota tubuh yang lain. Allah Ta’ala berfirman, 'Sekarang masukkanlah hambaKu ini ke Neraka!'

Kemudian ia diseret ke dalam api Neraka. Hamba itu lalu berkata, 'Ya Rabbi, benar aku masuk Surga hanya karena rahmat-Mu, masukkanlah aku ke dalam SurgaMu.'

Allah Ta’ala berfirman, 'Kembalikanlah ia.'

Kemudian ia dihadapkan lagi di depan Allah Ta’ala, Allah Ta’ala bertanya kepadanya, 'Wahai hambaKu, Siapakah yang menciptakanmu ketika kamu belum menjadi apa-apa?'Hamba tersebut menjawab, 'Engkau, wahai Tuhanku.'

Allah bertanya lagi, 'Yang demikian itu karena keinginanmu sendiri atau berkat rahmatKu?'Dia menjawab, 'Semata-mata karena rahmatMu.'

Allah bertanya, 'Siapakah yang memberi kekuatan kepadamu sehingga kamu mampu mengerjakan ibadah selama 500 tahun?'Dia menjawab, 'Engkau Ya Rabbi.'

Allah bertanya, 'Siapakah yang menempatkanmu berada di gunung dikelilingi ombak laut, kemudian mengalirkan untukmu air segar di tengah-tengah laut yang airnya asin, lalu setiap malam memberimu buah delima yang seharusnya berbuah hanya satu tahun sekali? Di samping itu semua, kamu mohon kepadaKu agar Aku mencabut nyawamu ketika kamu bersujud, dan aku telah memenuhi permintaanmu!?'Hamba itu menjawab, 'Engkau ya Rabbi.'

Allah Ta’ala berfirman, 'Itu semua berkat rahmatKu. Dan hanya dengan rahmatKu pula Aku memasukkanmu ke dalam Surga. Sekarang masukkanlah hambaKu ini ke dalam Surga! HambaKu yang paling banyak memperoleh kenikmatan adalah kamu wahai hambaKu.' Kemudian Allah Ta’ala memasukkanya ke dalam Surga."

Jibril ‘Alaihis Salam melanjutkan, "Wahai Muhammad, sesungguhnya segala sesuatu itu terjadi hanya berkat Rahmat Allah Ta’ala." (HR. Al-Hakim, 4/250.)

Teka-Teki Imam Al-Ghozaly

Wahai saudaraku renungkan pesan dari Imam Al-Ghazali ketika berkumpul dengan murid-muridnya dan kemudian beliau memberikan pertanyaan teka-teki…

Imam Ghazali : “Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”

Murid 1 : Orang tua

Murid 2 : Guru

Murid 3 : Teman

Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu adalah janji Allah SWT bahwa setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati (Surah Ali-Imran : 185).

Imam Ghazali : “Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?”

Murid 1 : Negeri Cina

Murid 2 : Bulan

Murid 3 : Matahari

Iman Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.


Imam Ghazali : “Apa yang paling besar di dunia ini?”

Murid 1 : Gunung

Murid 2 : Matahari

Murid 3 : BumiI

Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf : 179).“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah SWT) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah SWT), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah SWT). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. Imam Ghazali : “Apa yang paling berat di dunia?”

Murid 1 : Baja

Murid 2 : Besi

Murid 3 : Gajah

Imam Ghazali : Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72).

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat[*] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.

[*]: Yang dimaksud dengan amanat di sini ialah tugas-tugas keagamaan.

Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allad SWT meminta mereka menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka karena gagal memegang amanah.

Imam Ghazali : “Apa yang paling ringan di dunia ini?”

Murid 1 : Kapas

Murid 2 : Angin

Murid 3 : Debu

Imam Ghazali : Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan sholat.


Imam Ghazali : “Apa yang paling tajam sekali di dunia ini?”

Murid-murid dengan serentak menjawab : Pedang

Imam Ghazali : Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

SURAT DARI SUAMI YANG KELUAR DI JALAN ALLAH ( Khuruj fi sabilillah)

Wahai isteriku
Hari ini aku pergi
meninggalkan mu
meninggalkan anak-anak kita
Dan meninggalkan rumah kita yang penuh kenamgan

Hari ini aku pergi
karena perintah daru Dzat
Yang telah menancapkan getaran di hatiku
Ketika aku menatapmu
Disaat malam pertama kita

Hari ini aku pergi
Untuk menyenangkan hati seseorang
Yang telah korbankan hidupnya
Untuk kebahagiaan kita hari ini
Sehingga kau dan aku berjumpa
Dalam keadaan Islam

Hari ini aku pergi
Untuk menghapuskan luka
Saiyyidul Ambiaya Muhammad SAW
Karena lautan maksiat
Yang telah dibuat
Orang yang mengaku sebagai ummatnya

Jadi....Wahai isteriku
Aku pergi tinggalkan kamu
Untuk datang kepada Dzat
Yang memiliki hati kamu
Hingga bersemi cinta diantara kita

Aku pergi tinggalkan kamu...
Bukan karena aku tak menyayangimu
Sejak aku menjadi suamimu
Hatiku......
Tak pernah sedikitpun kehilangan cinta untukmu

Tetapi ada mata yang tak pernah mengantuk
Mengawasi cinta kita
Ada tangan yang akan pukul kita
Ketika cinta kita melebihi cinta kepadaNya

Manakala aku melupakannya
Karena sibuk mengurusimu
Kerugian dmi kerugian akan datang
Dalam kehidupan rumahtangga kita

Jika esok.....
Ketika kau terbangun dari tidurmu
Kau tak dapati aku disisimu
Maka cepatlah bertasbih!!!
Alhamdulillah...Kenapa?
Bukankah Ummul Mukminin Aisyah Rha
Ketika merasa senang
Karena hidup bersama kekasih Allah

Maka Rasul SAW sabdakan:
"Bahawa orang yang paling bahagia
adalah orang yang suaminya keluar
di jalan Allah...Karena dia bukan hidup
dengan kekasih Allah....tetapi hidup
bersama Allah SWT"

Jika esok....
Ketika melihat kamar kita sepi
Tak ada canda ceria seperti hari sebelumnya
Maka ...bayangkan olehmu
Bagaimana rumah sahabiah?
Suami mereka selalu pergi bawa pedang
Terkadang tak ada khabar
Yang ada hanya kubur

Tetapi mereka tetap katakan
Biarlah rumah kami sepi
Asalkan rumah-rumah diseluruh alam
Penuh dengan Nur Iman

Jika esok ...
Tak ada tangan
Yang memberi suapan ketika kau makan
Seperti yang biasa ku akukan kepada mu
Yakinlah wahai isteriku ..
Allah SWT akan beri suapan padamu
Hidangan yang memiliki 70 rasa di Jannah
Yang tak akan jadi kotoran yang jijik
Mengeluarkan keringat melebihi kasturi

Ketahuiah isteriku...
Bahawa makanan di dunia
Mengandungi racun yang jadi penyakit
Jika tak di buang hajat

Jika esok.....
Musibah, ujian dan sejuta masalah
Datang dalam kehidupanmu tanpaku
Lihatlah kepada hatimu.............
Kemana kamu berlari?
Saat itu Allah ingin melihat iman kamu
Yang hari-hari bergantung kepadaku.

Kini Jika kau berwudhuk,
Dirikan solat.........
Adukan urusan mu kepada Rabb mu
Kau akan bahagia di dunia yang sementara
Dan akhirat yang kekal selama-lamanya.

By:Abu Aviroh Abidah Abu Navisah

Renungi Dengan Hati Yang Ikhlas
“InsyAllah”

Tasawuf

SUNAN KALIJAGA

Wejangan Kanjeng Sunan Kalijogo marang Kyai Ageng Bayat Semarang (Sekar Macapat – kanthi Tembang Dandang Gulo).

Urip iku neng ndonya tan lami. (hidup didunia tak selamanya)
Umpamane jebeng menyang pasar.( seumpama kita pergi ke pasar)
Tan langgeng neng pasar bae.(tidak selamanya dipasar saja)
Tan wurung nuli mantuk.(tidak akan batal untuk pulang)
Mring wismane sangkane uni.(kerumah asalnya dulu)
Ing mengko aja samar.(jangan meragukan)
Sangkan paranipun.(asal usul nya)
Ing mengko podo weruha.( nanti semua orang akan tahu)
Yen asale sangkan paran duk ing nguni.(kalau asalnya dari rumah yang dulu)
Aja nganti kesasar.(jangan sampai tersesat)
Yen kongsiho sasar jeroning pati.(apalagi jika tersesat dalam hidup sebelum mati)
Dadya tiwas uripe kesasar.(maka akan sia- sia hidup jika harus tersesat)
Tanpa pencokan sukmane.(tanpa jiwa)
Separan-paran nglangut.(pergi kemana-mana)
Kadya mega katut ing angin.(seperti mega terbawa angin)
Wekasan dadi udan.(akhirnya jadi hujan)
Mulih marang banyu.(pulang kepada air)
Dadi bali muting wadag.(jadi kembali keasalnya)
Ing wajibe sukma tan kena ing pati(karena jiwa tidak akan pernah mati)
Langgeng donya akherat.(kekal abadi dunia akherat)

Belajar dari Wejangan Nabi Khiddir pada Sunan Kalijaga
Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari pengalaman hidup, baik itu pengalaman hidup pribadi maupun orang lain. Orang Jawa menyebut belajar pada pengalaman orang lain itu sebagai "kaca benggala". Nah, kini kita belajar pada pengalaman dari Kanjeng Sunan Kalijaga.

Ketika itu, Kanjeng Sunan Kalijaga yang juga dijuluki Syech Malaka berniat hendak pergi ke Mekkah. Tetapi, niatnya itu akhirnya dihadang Nabi Khidir. Nabi Khidir berpesan hendaknya Kanjeng Sunan Kalijaga mengurungkan niatnya untuk pergi ke Mekkah, sebab ada hal yang lebih penting untuk dilakukan yakni kembali ke pulau Jawa. Kalau tidak, maka penduduk pulau Jawa akan kembali kafir.

Bagaimana wejangan dari Nabi Khidir pada Kanjeng Sunan Kalijaga? Hal itu tercetus lewat Suluk Linglung Sunan Kalijaga. Inilah kutipan wejangannya:

Birahi ananireku,
aranira Allah jati.
Tanana kalih tetiga,
sapa wruha yen wus dadi,
ingsun weruh pesti nora,
ngarani namanireki

Timbulah hasrat kehendak Allah menjadikan terwujudnya dirimu; dengan adanya wujud dirimu menunjukkan akan adanya Allah dengan sesungguhnya; Allah itu tidak mungkin ada dua apalagi tiga. Siapa yang mengetahui asal muasal kejadian dirinya, saya berani memastikan bahwa orang itu tidak akan membanggakan dirinya sendiri.

Sipat jamal ta puniku,
ingkang kinen angarani,
pepakane ana ika,
akon ngarani puniki,
iya Allah angandika,
mring Muhammad kang kekasih.

Ada pun sifat jamal (sifat terpuji/bagus) itu ialah, sifat yang selalu berusaha menyebutkan, bahwa pada dasarnya adanya dirinya, karena ada yang mewujudkan adanya. Demikianlah yang difirmankan Allah kepada Nabi Muhammad yang menjadi Kekasih-Nya

Yen tanana sira iku,
ingsun tanana ngarani,
mung sira ngarani ing wang,
dene tunggal lan sireki iya Ingsun iya sira,
aranira aran mami

Kalau tidak ada dirimu, Allah tidak dikenal/disebut-sebut; Hanya dengan sebab ada kamulah yang menyebutkan keberadaan-Ku; Sehingga kelihatan seolah-olah satu dengan dirimu. Adanya AKU, Allah, menjadikan dirimu. Wujudmu menunjukkan adanya Dzatku

Tauhid hidayat sireku,
tunggal lawan Sang Hyang Widhi,
tunggal sira lawan Allah,
uga donya uga akhir,
ya rumangsana pangeran,
ya Allah ana nireki.

Tauhid hidayah yang sudah ada padamu, menyatu dengan Tuhan. Menyatu dengan Allah, baik di dunia maupun di akherat. Dan kamu merasa bahwa Allah itu ada dalam dirimu

Ruh idhofi neng sireku,
makrifat ya den arani,
uripe ingaranan Syahdat,
urip tunggil jroning urip sujud rukuk pangasonya,
rukuk pamore Hyang Widhi

Ruh idhofi ada dalam dirimu. Makrifat sebutannya. Hidupnya disebut Syahadat (kesaksian), hidup tunggal dalam hidup. Sujud rukuk sebagai penghiasnya. Rukuk berarti dekat dengan Tuhan pilihan.

Sekarat tananamu nyamur,
ja melu yen sira wedi,
lan ja melu-melu Allah,
iku aran sakaratil,
ruh idhofi mati tannana,
urip mati mati urip.

Penderitaan yang selalu menyertai menjelang ajal (sekarat) tidak terjadi padamu. Jangan takut menghadapi sakratulmaut, dan jangan ikut-ikutan takut menjelang pertemuanmu dengan Allah. Perasaan takut itulah yang disebut dengan sekarat. Ruh idhofi tak akan mati; Hidup mati, mati hidup

Liring mati sajroning ngahurip,
iya urip sajtoning pejah,
urip bae selawase,
kang mati nepsu iku,
badan dhohir ingkang nglakoni,
katampan badan kang nyata,
pamore sawujud, pagene ngrasa matiya,
Syekh Malaya (S.Kalijaga) den padhang sira nampani,
Wahyu prapta nugraha.

mati di dalam kehidupan. Atau sama dengan hidup dalam kematian. Ialah hidup abadi. Yang mati itu nafsunya. Lahiriah badan yang menjalani mati. Tertimpa pada jasad yang sebenarnya. Kenyataannya satu wujud. Raga sirna, sukma mukhsa. Jelasnya mengalami kematian! Syeh Malaya (S.Kalijaga), terimalah hal ini sebagai ajaranku dengan hatimu yang lapang. Anugerah berupa wahyu akan datang padamu.

Dari wejangan tersebut kita bisa lebih mengenal GUSTI ALLAH dan seharusnya manusia tidak takut untuk menghadapi kematian. Disamping itu juga terdapat wejangan tentang bagaimana seharusnya semedi yang disebut "mati sajroning ngahurip" dan bagaimana dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

MANUNGGALING KAWULO LAN GUSTI yg dimaksd dng manunggal itu sejatinya adalah `keikhlasan total kita kepada Allah untuk diatur melalui syariat Nya`.
Asas Da'wah Walisongo

Wasiat Sunan Kalijaga dalam kitabnya :

“Yen wis tibo titiwancine kali-kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange, wong wadon ilang wirange, mangka enggal – enggala tapa lelana njlajah desa milang kori patang sasi, aja ngasik balik yen durung oleh pitunduh (hidayah) saka gusti Allah”

Artinya kurang lebih :

“jika sudah tiba zamannya dimana sungai2 hilang kedalamannya (banyak org yg berilmu yg tdk amalkan ilmunya), pasar hilang gaungnya (pasar org beriman adalah masjid, jika masjid2 tak ada adzan, wanita2 hilang malunya (tdk tutup aurat dsb) maka cepat2lah kalian keluar 4 bulan dari desa ke desa (dari kampong ke kampong) dari pintu ke pintu (dari rumah ke rumah utk dakwah) jgnlah pulang sebelum mendapat hidayah dr Allah swt”

Kalau kita buat dakwah berpegang dgn azas dakwah ini maka dakwah kita akan mirip dgn dakwah nabi dan sahabat shg akan menjadi asbab hidayah keseluruh alam

Azas dakwah walisongo ada 10 :

1. Sugih tanpa banda (kaya tanpa harta)
artinya : jgn yakin pada harta….kebagahiaan dlm agama, dakwah jgn bergantung dgn harta

2. Ngluruk tanpa bala (menyerbu tanpa banyak orang/tentara)
artinya : jgn yakin dgn banyaknya jumlah kita,…..yakin dgn pertolongan Allah

3. Menang tanpa ngasorake (menang/unggul tanpa merendahkan orang)
artinya : dakwah jgn menganggap hina musuh2 kita….kita pasti unggul tapi jgn merendahkan org lain (jgn sombong)

4. Mulya tanpa punggawa (mulia tanpa anak buah)
artinya : kemuliaan hanya dalam iman dan amalan agama bkn dgn bnyknya pengikut

5. Mletik tanpa sutang (melompat jauh tanpa tanpa galah/tongkat panjang)
artinya : niat utk dakwah keseluruh alam, Allah yg berangkatkan kita bukan asbab2 dunia spt harta dsb…

6. Mabur tanpa lar (terbang tanpa sayap)
artinya : kita bergerak jumpa umat…dari orang2 ke orang…. jumpa ke rumah2 mereka ..

7. Digdaya tanpa aji-aji (sakti tanpa ilmu2 kedigdayaan)
Artinya : kita dakwah, Allah akan Bantu (jika kalian Bantu agama Allah, maka pasti Allah akan tolong kalian dan Allah akan menangkan kalian)

8. Menang tanpa tanding (menang tanpa berperang)
Artinya : dakwah dgn hikmah, kata2 yg sopan, ahlaq yg mulia dan doa menangis2 pada Allah agar umat yg kita jumpai dan umat seluruh alam dapat hidayah….bukan dgn kekerasan….
Nabi SAW bersabda yg maknanya kurang lebih : “Haram memerangi suatu kaum sebelum kalian berdakwah (berdakwah dgn hikmah) kpd mereka”

9. Kuncara tanpa wara-wara (menyebar/terkenal tanpa gembar-gembor/iklan2 dsb)
Artinya : bergerak terus jumpa umat, tdk perlu disiar2kan atau di umum2kan

10.Kalimasada senjatane ( senjatanya kalimat iman (syahadat))
Artinya : selalu mendakwahkan kalimat iman, mengajak umat pada iman dan amal salih….

SUNAN DRAJAT lebih suka menyampaikan pesan al-Qur’an dan hadits dengan menggunakan bahasa Jawa” sebagaimana dicatat oleh sejarah:

” Menehono teken wong kang wuto (buta), Menehono pangan marang wong kang luwe (kelaparan), menehono busono marang wong kang wudo (telanjang), menehono ngiyup marang wong kang kaudanan (kehujajan).”

Poem : Maulana Syekh Muhammad Nazhim Al Haqqani

i saw my Lord with the eye of my heart
i said no doubt it's You it's You

You are the one who
encompassed every "where"
so that is no "where" except You are there

"where has no "there"
in regards to You
for "where to know where you are

not can imagination, imagine You
for imagination to know where You are

Your Knowledge encompasses everything
so that everything i see is You

and in my annihilation
is the annihilation of my annihilation
and in my annihilation
i found You

As – Syayid Maulana Syekh Muhammad Nazhim Al Haqqani (Qs)


aku melihat Tuhanku dengan mata hatiku
aku bilang tidak diragukan lagi itu Engkau itu Engkau

Engkau adalah salah satu yang
mencakup setiap "di mana"
sehingga tidak "di mana" kecuali Engkau berada di sana

"di mana tidak memiliki" ada "
dalam hal untuk Mu
untuk "tempat untuk tahu di mana Engkau”

tidak bisa berimajinasi, membayangkan Mu
untuk berimajinasi untuk mengetahui di mana Engkau

Pengetahuan Mu meliputi segala sesuatu
sehingga segala sesuatu yang saya lihat adalah Engkau

dan dalam pemusnahan saya
adalah pemusnahan penghancuran saya
dan dalam pemusnahan saya
saya menemukan Mu

As – Syayid Maulana Syekh Muhammad Nazhim Al Haqqani (Qs)